A True Storyteller

she tells what she Loves, Dreams, and Learns.

Sunday, August 18, 2013

Menghampiri Lebih Dekat

Hanya mampir, begitu niatku.

Mana pernah aku sangka
Nada yang dulu kubebaskan begitu saja di pekarangan
kini telah tumbuh
dengan caranya sendiri
dengan waktunya sendiri

Dan tiba waktunya
ketika notasi kisah-kisah itu berotasi
menghampiriku
dalam sosok yang berbeda

Menyapa, berbincang

tidak butuh waktu lama
untuk kami kembali akrab
seperti 'dulu'

Lalu ia mempertanyakan satu dua pertanyaan
yang sejenak mencekamku
Satu dua ketukan dengan kekuatan dobrakan penuh

Gladi bersih pidato jawabanku rontok
Kukira aku sudah cukup paham peran masing-masing

Namun kali ini aku mempertanyakan esensi jawabanku
Yang sudah kukumpulkan matang-matang
resultan satu lusin satuan waktu perjalanan

Menggali kembali segala pernak-pernik yang telah kukubur bersama
pertanyaan, fakta, opini masyarakat, keraguan, serta keputusan pribadi

Kali ini.
aku tidak akan lari.
tidak akan mengubur begitu saja
tidak akan menaruh begitu saja
tidak akan menerbangkan begitu saja

'Let's give it a try.'

Kali ini,
bernyanyilah.
berceritalah.

Lover. Dreamer. Learner.

Labels:

Tuesday, July 09, 2013

Dearest

Dearest

words from the heart
passion coming inside out
melodies from mind and soul
plans A to Z ready to be done
dreams packed in a special room

i tell u. i'm gonna see u.
i'm gonna pick u up.

and we're gonna have a great time.

soon.

Love,

Valen.

Lover. Dreamer. Learner.

Labels:

Wednesday, June 19, 2013

Melalui Sembilan Kisah



bukan tentang kuantitas.
bukan tentang apa atau siapa yang bisa diceritakan.
bukan tentang kharisma atau feromon.
bukan tentang barisan detail latar belakang atau sepak terjang
bukan tentang siapa yang mengejar atau dikejar.
bukan tentang siapa yang mematahkan atau dipatahkan.
bukan tentang kosong atau terisinya label.
bukan tentang barisan statistik dan resume
bukan tentang melewatkan masa-masa emas.

ini tentang pilihan.
ini tentang perjalanan.

berpikir,
merasa,
berusaha untuk memahami,
percaya,
dan mencoba jujur kepada sang hati.

oh. i've been this far.

Lover. Dreamer. Learner.

Labels: ,

Monday, June 03, 2013

Better than I


If i stay a little bit longer, would i be a better person?

Lover. Dreamer. Learner.

Labels:

Sunday, May 19, 2013

Lucky Enough

Some people want it all.
Some people just want 'every' thing.

I am lucky enough
surrounded by all good things around.

Good people
who could understand you,
or simply, trying to understand
good time
to be remembered
good space
to just be 'you'

then it is a good life.

If it's good enough, i won't ask for a better one.
I'm thankful for what I have.
I have what I need.
and that's enough.

Lover. Dreamer. Learner.

Labels:

Monday, May 13, 2013

Can You Tell Me?


To keep going
or to stop.

To hold on
or to cutaway.

To give another chance
or not.

But still appreciate any kindness
and do things in a right way.

Sounds simple but. I learn it in a hard way.

*sigh*

Lover. Dreamer. Learner.

Monday, April 22, 2013

Dirangkul Musikalitas: Piano, Cinta Pertama Saya


Kata mama, setiap kali saya lewat piano bertuts gading warna celometan kuning-soklat-putih yang terletak di depan pintu kamar saya di lantai dua ruko itu, saya selalu berhenti, terus dengan penuh semangat menekan-nekan tuts tersebut ngawur-ngawur 'dung creng dung tring trung...'

Ternyata itu latar belakang kenapa akhirnya mama memutuskan untuk mengikutkan saya di Kursus Musik Anak-Anak yang sama dengan yang diikuti kakak saya. Entah karena berebekan sama tingkah hyper si anak nomor dua begitu ngeliat piano, atau itu dianggap sebagai antusiasme tingginya terhadap dunia musik? Ya, karena saya manusia yang gemar berpikiran positip, saya pilih alasan nomer dua saja. Toh saya juga anak nomer dua. Kan biar sama 'nomor dua' gitu ceritanya. :D

Waktu itu usia saya tiga tahun. Kakak perempuan saya yang terpaut usia dua tahun lebih tua dari saya sudah diikutkan kursus piano. Mama memutuskan untuk mengikutkan anak-anaknya kursus piano karena dulu dia dan kedua saudara perempuannya juga dikursuskan piano sama nenek saya. Jadi katanya dia mau mengenalkan musik juga ke anak-anaknya. Meski sepanjang saya hidup di muka bumi ini, seingat saya, mama cuma pernah main piano itu lagu Fur Elise, nggak sampai 10x. Sekarang sih udah nggak pernah nyentuh piano sama sekali.
Tapi kalo dipikir-pikir, darah seni dan pemikiran modern yang 'terbuka' cukup banyak saya warisi dari keluarga besar mama. Ya saya bayangkan saja di era sekitar 60an, membelikan piano dan mau menghimbau anak-anaknya untuk kursus piano adalah 'sesuatu'. Ditambah fakta, meski keluarga besar mama berkecukupan, mereka bukan termasuk keluarga kaya raya. Kesimpulan saya, mereka memang tipe yang sanggup menikmati hidup dan cukup memajukan urusan pendidikan, termasuk yang berkaitan dengan pendidikan sekunder, such as: art.

Kursus Musik pertama yang saya ikuti adalah kurikulum Yamaha, genre klasik, kelas berkelompok (non-privat). Instrumennya, piano. Meski dalam kursus grup, mayoritas alat musik yang kita gunakan adalah electone (pada zaman itu, sekarang sudah berganti rupa dan brand menjadi Stagea). Kurikulum musik klasik milik Yamaha bisa dibilang yang paling jelas dan rapi pada zaman itu. Secara komersil, pendistribusian dan pemasarannya cukup rata. (Jago juga ya dipikir-pikir Bung Yamaha menyasak pasar kota besar Indonesia) Tingkatan kenaikan kelasnya jelas, buku-bukunya didesain menarik, isi kurikulumnya juga cukup menarik. Tingkat paling dasar nggak langsung belajar memainkan lagu-lagu maestro bak pianis karbitan jaman sekarang.

Ada bagian menyanyi bersama dengan lagu-lagu bertema menarik (hewan-hewan an, dunia kita 'it's a new world', cita-cita, dll), menggambar not, menyanyikan lagu-lagu pendek dalam not angka (solfege), belajar chord paling dasar (kadens), belajar melatih kepekaan pendengaran terhadap nada dan harmoni (hearing), belajar membuat aransemen atau merangkai melodi meski sangat sederhana (saya lupa apa istilah kurikulumnya, bahasa sederhananya sering saya sebut 'improvisasi'), memainkan lagu yang terbagi dalam aransemen beberapa alat musik secara bersama-sama (ensemble), hingga memainkan lagu secara solo (pada tingkat-tingkat lanjutan, bagian ini akan diasah lebih lanjut dalam kursus privat tambahan, selain kursus secara grup yang tetap berlangsung).

Hampir sepuluh tahun saya setia mengikuti kursus piano klasik Yamaha. Bentuk latihan yang sifatnya teknis seperti tangga nada berbagai rupa dan nada dasar sudah dilalui. Terkadang rutin, Seringnya bolong. Memainkan lagu-lagu mulai dari yang bunyinya enak, biasa saja, hingga tidak dipahami juga sudah dilalui.
Demikian pula dengan ujian dan pesta musik (semacam lomba musik internal sekolah musik Yamaha). Jenuh juga akhirnya saya dengan metode main musik 'membaca partitur' dan menyeragamkan emosi dengan instruksi yang tertulis di sana. Well, bagi kacamata saya yang berusia awal belasan tahun, itulah definisi musik klasik. Usia sekitar 12-13 tahun, saya mulai jenuh dengan piano, tepatnya musik klasik. Apalagi sejak tahun 1997-an, era musik pop dibantu boom-nya MTV sudah mulai menghiasi perbendaharaan bermusik saya. Saya ingat, lagu pop pertama yang sanggup saya hapalkan adalah 'My Heart Will Go On' nya Celine Dion yang OST.nya Titanic. Belakangan kalau dikroscek dengan teman-teman seangkatan, banyak juga yang mengaku bahwa lagu itu yang mengawali terjunnya mereka ke ranah musik pop era 90an.

Perlahan mulailah saya mengenal Britney Spears, Boyzone, Backstreet Boys, Westlife, Spice Girls, dan lagu-lagu maupun popstar lain yang menghiasi tangga lagu MTV Asia Hit List yang wajib ditongkrongi setiap sabtu siang sepulang sekolah di channel MTV (saya masih ingat detailnya, wow!)

Selain itu, awal era 2000, di kegiatan komunitas gereja, alat musik wajib yang selalu available di tengah kami adalah gitar akustik. Beda dengan piano/ electone/ keyboard. Gitar terlihat lebih down to earth. Gampang ditenteng-tenteng ke mana. Tinggal dibawa, dipangku, digenjreng. Yang 'sanggup' memainkan juga nggak harus muluk-muluk juago. Nggak harus yang sudah belajar musik lama-lama. Yang sama sekali nggak pernah kursus musik bisa terlihat 'cukup fasih' juga bergaul dengan gitar. Dan asiknya, gitar itu bisa banget dibuat sambil nyanyi! Pelan-pelan, ketertarikan saya akan instrumen yang satu ini mulai tumbuh.

*to be continued*

Lover. Dreamer. Learner.

Labels: , ,

Saturday, April 20, 2013

Esensial.


Saya lupa sudah sejak kapan saya mulai menulis. Sejujurnya, saya lebih suka dianggap sebagai tukang cerita dibandingkan penulis. Menulis adalah salah satu metode penceritaan dalam teks, dan bagi saya esensi utama yang saya cari tetap: bercerita. Seingat saya, latihan bercerita saya bermula dari permainan rumah-rumahan dan menceritakan ulang isi buku cerita yang saya baca.  

Belasan tahun kemudian, masa-masa kuliah konsentrasi jurnalistik turut memberikan perpendaran warna tersendiri dalam perjalanan menulis saya. Tidak hanya kecipakan di pesisir pantai kepenulisan, tapi mulai menceburkan diri selutut, sepinggang (hmm saya harap nggak sampai menenggelamkan basement UOB), bahkan berani menyelam menikmati indahnya terumbu karang perangkaian simbol dan lambang berbentuk pesan. Oh tentu saja keindahan bahari kepenulisan bukan hanya persoalan teknis menulis: memilih jenis berita, mengatur plot, memilih angle, diksi, sunting-menyunting , mengumpulkan data, bla bla bla teknis lainnya.

Makin tenggelam dalam bahari kepenulisan artinya, makin tenggelam dalam bentuk-bentuk penceritaan. Bagaimana saya meng-capture sebuah kejadian, mencoba mendefinisikan, memberi label, judul, subjudul, membentuk plot untuk disampaikan ulang ke pihak lain, menaruh poin-poin kritis untuk menekankan gagasan saya, memilih quote/ perumpamaan/ kejadian setimbang untuk dijadikan penguat argumen, atau membungkus semuanya dalam sebuah kesimpulan yang siap saji. 

Saya dulu sering berpikir, kesukaan saya dalam dunia tulis-menulis akan makin terasah ketika saya memang makin menjerumuskan diri dalam hal-hal senada. Bergelut dengan dunia media, profesi yang erat membutuhkan keahlian menulis, dan sebagainya. Eh saya salah ternyata.
Latihan berenang/ snorkling/ diving dalam bentuk-bentuk kepenulisan itu nggak cuma terjadi ketika saya memang secara nyata menuliskan sesuatu di atas kertas atau mengetikkan sesuatu di gadget tertentu. Semua aksi-aksi tersebut bisa berputar-putar di benak bahkan ketika saya hanya memandang ke sekitaran. Bahkan semuanya bermula dari aktivitas menerawang macam ngelamun.  Observasi ke sana kemari dengan kejadian sekitar, bermain-main dengan intrapersonal sendiri. Wah seru juga ternyata.

Lebih lanjut lagi, saya cukup beruntung punya beberapa butir kawan sefrekuensi yang sangat tangguh dijadikan lawan berlatih. Menyamakan definisi, menentukan limitasi konteks gagasan. Bertukar, saling sanggah, bahkan 'menggugat' argumen satu sama lain. Tanpa disadari dengan mereka juga mata pisau pola pikir dan gaya penyampaian pendapat saya terus terasah dan berkembang. Well, saya rasa itu merupakan hal-hal dasar yang patut dimiliki seorang pencerita.

Hal paling berharga yang saya tidak pernah putus syukuri dengan semakin dalamnya saya menyelami dunia ini adalah, terbentuknya reflek untuk menyerap hampir semua hal dalam hidup saya untuk dimasukkan dalam akun 'rekening bank' pengalaman hidup.  :D Saya percaya, deskripsi terbaik seorang penulis bisa datang dari kemampuan imajinasi super hebat atau sebaliknya, pengalaman hidup super nyata. :)

Pengakuan bahwa 'saya seorang penulis - based on true experience' membuat saya mampu menikmati buanyak hal besar hingga detil kecil dalam kehidupan. Excitementnya mencapai tempat tujuan dibantu GPS, menggaris bawahi statement yang saya kategorikan sebagai 'wisdom' dari berbagai orang yang dijumpai di kehidupan, tersesat ditemani sekantong Lays rumput laut dan air mineral, damainya ngelamun berjam-jam di kursi kereta, jogging berlama-lama dengan pemandangan bergerak perumahan lengang, kekompleksan hubungan dan alur kerja dalam bisnis keluarga, rasa-rasa klik tak tergambarkan dengan makhluk-makhluk tertentu di muka bumi ini, pertanyaan abstrak tentang impian dan masa depan dan realita, pendapat-pendapat idealis personal tentang kehidupan berkebangsaan dan berkenegaraan, dan oh masih buanyaaaak lagi.

Jika ada beberapa pertanyaan yang masih belum saya simpulkan jawabannya, saya selalu tampung dalam sebuah kotak tertentu dalam benak saya. Jika ada kata-kata, pernyataan 'asik' yang menarik, saya taruh di kotak lain. 'Capture' an peristiwa berkesan tertentu juga punya kotak tersendiri. Ketika dulu, di masa-masa awal saya belum terlalu terbiasa dengan metode penyimpanan 'pemikiran-pemikiran' tersebut, 'mengeluarkan' semuanya adalah sesuatu yang lumrah dan seakan-akan harus dilakukan. Jika tidak, pikiran saya akan pecah.

Namun sekarang saya merasa cukup banyak hal yang berbeda. Kotak-kotak penyimpanan itu makin betah nangkring dalam benak saya. Kemampuan adaptasi mereka meningkat. Kapasitas mereka bertambah. Pemikiran, pertanyaan, kesimpulan, dokumentasi yang ada bisa menjadi jinak. Atau mungkin memang ada bagian dalam diri saya yang akhirnya bisa menjinakkan mereka?

Yang jelas mereka tidak punah. Mereka tetap hidup. Mereka tetap bertumbuh. Mereka menemui bentuk-bentuk yang baru untuk terus berkoloni menjadi sebuah kesatuan yang kompak.

Belakangan, saya menemukan dua bentuk penceritaan lain yang mulai memasuki level kedalaman hampir sama seperti menulis.

Yang pertama, musik.
Yang kedua, berlari.

:)

Mungkin besok-besok, cerita tentang dua dunia 'lain' itu akan saya ceritakan lebih detail lagi.

Sejujurnya saya nggak pernah menyangka, bisa tiba di titik di mana saya bisa menggali begitu banyak hal tentang kejadian yang pernah saya alami dalam hidup. Hal-hal yang mungkin bagi orang lain tampak begituuu sepele. Atau sebaliknya hal-hal yang tampak begitu kompleks bagi orang lain, bisa saya daratkan dengan begitu sederhana.

Saya bersyukur saya dipilih. Dan saya bersyukur saya boleh tiba di titik saya bisa memilih untuk mengakuinya.

Ternyata ada hal-hal yang tidak perlu dicari hingga keliling dunia. Ternyata ada sosok yang tidak pernah menjadi asing seberapa lama pun telah kita tinggalkan. Ternyata ada cahaya yang tidak akan pernah bisa dihindari. Ternyata ada perhentian yang akan membuatmu selalu kembali. Berapa lama pun kamu pernah meninggalkannya.

Bercerita. Sepertinya, memang itu esensi seorang saya.

Lover. Dreamer. Learner.

Labels: , ,

Monday, April 01, 2013

Waktu Bekerjasama


Waktu
mampu menunjukkan kelemahan
mampu menyembuhkan luka
mampu menggali potensi
mampu menyediakan kesempatan
mampu mengakhiri penantian
mampu membuktikan kekuatan
mampu membawa kebahagiaan
mampu memberikan jawaban

Kali ini
coba ambil waktu
untuk dirimu
mendengar
menanti
bersabar
menari
terus berjalan

Kali ini
coba beri kepercayaan
pada sang waktu
untuk menjadi dirinya sendiri
memberikan yang terbaik
yang ia punya
untukmu

Percayalah pada kerjasama kalian.

Lover. Dreamer. Learner.

Labels: ,

Sunday, March 24, 2013

Sudah Pulang dan Masih Heran - Part 1

Juli 2012. Saya sekarang sudah agak lupa dengan jelas tanggalnya. 15 sepertinya (habis cek kalender elektronik soalnya :p ) Hari di mana saya akhirnya mendarat di kampung halaman untuk pulang, kembali menetap. Atau 'for good' istilahnya.

Berarti kalau sekarang tanggal 20 sekian Maret 2013, sudah 8 bulan saya di Surabaya.
Ibarat waktu masih SD dulu, masih pake sistem caturwulan, saya sekarang sudah menyelesaikan cawu II, kurang satu cawu lagi untuk menyelesaikan satu tahun ajaran. Dibilang sudah lama banget ya enggak... Tapi kalau dibilang 'enggak kerasa', ya betul sekali. Lebih tepatnya, enggak kerasa saya bisa juga sampai di cawu II ini.

Sudah sejak lamaaaaa saya mau menuliskan tentang banyak hal terkait tentang topik pulang ini. Mengapa pulang, apa yang terjadi akhirnya ketika pulang, dan seterusnya.

Sebenarnya satu kata yang paling menyatukan semua hal yang ingin disampaikan seputar kepulangan itu adalah: heran. 

Jujur, saya sampai sekarang itu masih suka terheran-heran sendiri.
Nomer satu, tentang keputusan saya untuk akhirnya pulang 'for good.'
Agak gila sepertinya. Di saat semua impian seakan sudah tersedia di telapak tangan, hanya tinggal digenggam, seakan-akan saya memutuskan untuk melepaskan begitu saja. Yang terbesar yang sudah tersedia di depan mata sudah ada padahal: kebebasan. Freedom.
Kebebasan yang sudah terbukti bisa dipertanggung jawabkan.

Pengalaman hidup dalam keseorang dirian untuk pertama kalinya ternyata membukakan sebuah fakta yang baru saya ketahui tentang diri saya sendiri. Ternyata meski saya ini cukup 'people-person', kebebasan adalah hal baru yang saya begitu dambakan. Well, mungkin pada dasarnya itu salah satu sisi yang dirasakan semua anak perantauan. Jauh dari keluarga, bebas ngapa-ngapain. Tapi bagi saya pribadi, kebebasan itu lebih dari sekedar euforia anak yang baru dilepas sendirian ke kota yang lebih besar. Bukan. Itu seperti menyalakan tombol 'on' ke satu fungsi kehidupan yang sebelumnya selalu padam, tanpa paham bahwa itu merupakan salah satu penerangan utama dalam kepribadian saya.

Saya akui orangtua saya termasuk kolaborasi dua pribadi yang pada akhirnya cukup memberikan kebebasan pada saya untuk bebas mengambil keputusan, termasuk berbuat kesalahan. Asalkan semuanya dapat dipertanggung jawabkan. Meski demikian, pada akhirnya kami tetaplah keluarga berkultur timur yang kental dengan adat budaya serta semua hal yang berkaitan dengan sanak famili. Sehingga meski secara internal rumah tangga saya basically tidak terlalu dikekang, namun dalam lingkup kampung halaman, saya merasa ruang gerak saya cukup dibatasi.

Di Jakarta hampir tidak ada yang mengenal seorang Valencia Leonata. Teman lingkungan akademis, teman main, teman komunitas gereja, teman yang berkaitan dengan profesi semuanya nol besar. Saya bebas memulai dari awal, membangun relasi dengan siapa dan dengan cara apa. Dan toh akhirnya saya tiba di sana.

Di titik ketika saya menemukan ritme cukup gila kehidupan baru beserta pertemuan dengan orang-orang baru yang banyak memperkaya pandangan saya.

Sebulan awal benar-benar sendiri dilanda kesepian yang cukup menyesakkan (betul sebulan pertama memang yang tersusah). Keseorang dirian ternyata tidak bisa diremehkan....

Belanja kebutuhan kecil-kecil sehari-hari, rutinitas aktivitas, mengatur pengeluaran operasional sinting, melalui banyak momen makan siang, makan malam, nonton bioskop, nonton konser, belanja, urusan bengkel, mengganti ban cadangan, menghabiskan akhir pekan, terkapar kelelahan, terjebak kemacetan. Seorang diri.

Dari titik terkejut, terbiasa, hingga akhirnya mulai menikmati.

Bertemu orang-orang baru. Dari yang awalnya menyiapkan mental 'ya sudah kalau nggak ketemu teman dekat, toh saya ke sini bukan untuk berteman', sampai akhirnya dipertemukan dengan manusia-manusia sefrekuensi. Urusan becandaan, diskusi kasual film-musik hingga debat kontekstual akademis maupun isu sosial, berbagi dari hati ke hati, manja-manja an, update kehidupan sehari-hari, semuanya sudah saya dapatkan.

Pintu-pintu bidang yang berkaitan dengan mimpi-mimpi terbuka dengan akses luas. Demikian pula dengan pola hidup serba menantang dan memacu saya untuk terjun dalam persaingan yang selalu saya idamkan.

Bayangan kehidupan yang bebas nan mandiri secara karir, finansial, serta keseimbangan kehidupan sosial itu sudah cukup membahagiakan saya.

Apalagi yang masih kurang?

Namun dari kejauhan satu ruang yang sengaja ditinggal lari itu seakan terus memanggil. Mengetuk. Membunyikan bel, isyarat tanda bahaya. Sesekali. Dua kali. Tidak ada sirine yang memekakkan memang. Seingat saya, tidak pernah ada memang.
Mungkin memang ikatan yang kuat itu tidak bisa dipungkiri. Sirine yang berbunyi nyaring itu sebenarnya ada dari sisi saya sendiri. Sebuah alarm tanda bahaya tak berbunyi yang memang mungkin hanya saya yang merasakannya.

'Saya harus pulang.'

Meski itu harus ditukar dengan segala kenyamanan kebebasan ini.
Meski itu artinya saya harus kembali menekan tombol 'off' pada penerangan utama ini.

Mungkin itu alasannya saya suka membaca 'Perahu Kertas.'
Sepertinya makin lama banyak sisi kehidupan para karakternya yang memiliki kesamaan dengan saya. Dulu Kugy. Sekarang Keenan.

Di sisi lain, hal itu juga yang melandasi keheranan saya. Ya, sebenarnya poin keheranan saya bukanlah 'kok bisa saya pulang dan melepaskan kebebasan saya begitu saja'

tapi lebih tepatnya

'kok bisa saya mau pulang dan bisa melepaskan kebebasan yang begitu saya cintai begitu saja dan tetap merasa damai?'

:)

Mungkin ini juga yang jadi salah satu alasan lain saya semakin menyukai 'Perahu Kertas.'

Saya juga makin percaya, memang sepertinya benar:
'Karena hati tidak perlu memilih, dia telah tau ke mana seharusnya dia berlabuh.'

Ada yang belum bisa dijelaskan pada saat itu, tapi dengan mantap bisa saya rasakan.
Ya, saya mau pulang. :)
Bukan karena siapa-siapa. Bukan karena apa-apa.
Tapi karena saya sendiri yang mau.

Terima kasih atas sirene-sirene yang selalu memberikan simbol lambang tertentu yang memang hanya saya yang bisa pahami itu.

Yang bersyukur akhirnya pulang.
Meski masih terus terheran-heran,


Valen

Lover. Dreamer. Learner.