the Interview (part 2)

Hmm. akhir2 ini sepertinya hari-hari saya memang dipenuhi dengan interview. Jika minggu lalu interview kebanyakan berkaitan dengan institusi, kali ini adalah jenis interview yang saya sering lakukan. Interview untuk profil! Nah, bedanya, jika biasanya saya yang meng-interview orang lain, kini giliran saya yang di-interview. :D
Beberapa hari lalu, salah seorang kenalan saya dari sebuah media rohani lokal, bertanya, 

"Valen, kamu keberatan nggak kalo profil kamu di angkat ke renungan "youth", supaya bisa jadi inspirasi en berkat buat anak muda yang lain."

Singkat cerita, saya mengiyakan dan interview dilakukan via email. Lucu juga, biasa 'mengorek-ngorek' biodata dan kisah pribadi seseorang, kini giliran saya yang dibegitukan. Hehe. Menjawab 20 buah pertanyaan yang sifatnya cukup mendalam ternyata tidak begitu mudah. Sekalipun rata-rata dari setiap pertanyaan tersebut sudah pernah saya jadikan bahan tulisan di blog ini. Maksud saya, bagian yang susah itu adalah merangkum pemikiran yang tertuang dalam 1 posting (yang minim 5-6 paragraf), menjadi 1-2 paragraf saja. Tahu sendiri kan, saya ini doyan banget ngomong panjang lebar. :D Saya gak bayangin tuh gimana si editor bakal nge cut jawaban interviu saya. Yang saya tahu jatah profil itu cuma sekitar 2 halaman, dan ukuran kertasnya sekitar a5. Sedangkan hasil tulisan saya tadi sudah sekitar 8 halaman ukuran A4. :D
*Ya salah sendiri ngasih anak jurnalistik 20 pertanyaan mendalam kayak gitu. XDDDD

Yang paling berkesan dari proses interview - pasif ini adalah, bagaimana saya sendiri harus kembali flash back untuk emngingat jawaban-jawaban dari pertanyaan seputar masa lalu. Gila juga ya, sudah 22 tahun saya hidup, banyak juga hal-hal yang sudah saya lewati. Gak kerasa, Tuhan sudah buat hidup saya luar biasa. Luar biasa berubahnya. Luar biasa tidak disangkanya. 
Menjawaba kedua puluh pertanyaan tersebut seakan-akan saya berjalan kembali dalam lorong waktu, sejenak ke belakang, kembali lagi ke titik sekarang, dan berjalan melihat masa depan. Menelaah semuanya, saya merasa takjub, kagum, dan sangat kecil. Who Am I without You, Daddy?

~

Anyway, Ini adalah kutipan dari beberapa pertanyaan yang saya sukai... Beserta foto yang saya sent ke redaksi :D.
2. Pendapat kamu tentang keberadaan diri kamu:
Saya merasa bersyukur, bisa diberi kesempatan oleh Tuhan, untuk turut mendapat bagian dalam kehidupan ini. Waktu dan beragam kejadian di hidup membawa saya semakin menemukan arti, mengapa saya dilahirkan sebagai Valencia Leonata, seorang wanita dengan segala keunikannya, dengan latar belakang keluarga seperti ini, dibesarkan di bangsa Indonesia, dan setiap detail lain yang penuh tujuan. Saya percaya arti kehadiran saya di dunia bukan sekedar untuk menambah kepadatan milyaran penduduk bumi, ataupun pertemuan sel biologis kedua orangtua saya. Saya adalah pribadi berharga, hanya ada satu di dunia, dan diciptakan lengkap dengan tujuan hidup yang super keren!

4. Nilai-nilai atau didikan yang ditanamkan ortu dlm hidup kamu ?
Kerja keras dan bertanggung jawab. Itu dua hal yang paling melekat semenjak saya kecil hingga saat ini. Dibesarkan dalam keluarga dengan latar belakang etnis Tionghoa yang kuat, saya melihat secara langsung teladan kedua nilai tersebut lewat keseharian Papa dan Mama saya. Bagaimana kerja keras dan komitmen mereka dalam durasi bekerja, maupun bagaimana cara mereka menghadapi setiap masalah yang ada dengan penuh tanggung jawab. Dengan kolaborasi sifat yang bisa dikata bertolak belakang, Papa yang spontan, ulet, dan pemberani, serta Mama yang disiplin dan teratur, jadilah saya sebagimana adanya saat ini. Satu statement dari Papa yang selalu saya ingat, “Jangan pernah lari dari masalah. Kamu harus jadi gentleman. Ada masalah, separah apa pun, harus tetap maju dan dihadapi.”
 
5. Arti Tuhan dalam hidup kamu?
Dia adalah pencipta yang memberikan arti dan tujuan dalam hidup saya. Dia juga yang memimpin dan menemani setiap langkah hidup saya. Atau jika dibalik, tanpa Tuhan, hidup saya itu nggak ada artinya.
Bagi saya, jika kisah hidup saya diibaratkan sebuah film, Tuhan itu seperti sutradara (yang mengarahkan semua gerak saya), merangkap scriptwriter (yang menuliskan setiap detil cerita), sekaligus produser (yang menentukan siapa saja orang yang akan hadir dalam hidup saya), hingga sahabat sejati tempat saya berkeluh kesah.    

7. Orang yang berperan penting di dalam hidup kamu? kenapa?
Kakak saya, Felicia Leonata, adalah orang yang punya peranan paling besar bagi hidup saya. Delapan belas hingga sepuluh tahun yang lalu, salah satu hal yang menjadi tujuan terbesar dalam benak masa kecil saya adalah bagaimana caranya membalaskan dendam bahkan mungkin ‘menghabisinya.’ Ada ikatan masa lalu yang kelam antara saya dan kakak. Hari-hari masa kecil kita dipenuhi dengan konflik berkepanjangan yang tidak selayaknya konflik yang biasa terjadi antar saudara.
 Namun justru, hal itu yang membuat saya bisa mengenal Tuhan. Saya jadi mengerti arti pengampunan yang sejati, dan percaya bahwa setiap peristiwa dan orang dalam hidup kita ada untuk ebuah tujuan yang indah. Hari ini, jika saya bisa menjadi seorang pribadi yang berkeyakinan teguh dan mengenal Tuhan secara pribadi, semua adalah pengaruh keberadaan kakak saya. I can’t believe, that my villain can be one of my partner now. Sekarang, hubungan saya dengan kakak masih diselipi dengan konflik dan selisih paham layaknya saudara pada umumnya. Namun, dia adalah salah satu pribadi yang mendukung visi saya sepenuhnya. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika saya tidak pernah bertemu Tuhan. Akan jadi seperti apa hidup kita berdua saat ini.

12. Apa sich yang menarik buat kamu tentang dunia jurnalistik? 
Hmmm…  pada dasarnya, saya itu sangat suka berbagi kisah, mulai dari hal-hal kecil sampai kisah hidup seseorang. Saya juga sejak masa kanak-kanak adalah tipe anak yang memiliki rasa ingin tahu yang besar (saya ingat saya pernah bercita-cita menjadi detektif). Dunia jurnalistik itu menurut saya dasarnya dua hal, mengumpulkan informasi (news gathering) dan menuliskan informasi (news writing) tersebut. Nah, dua kesukaan saya semenjak masa kecil tersebut saya temukan dalam dunia jurnalistik.  

16. Kamu nulis blog juga? Apa motivasi kamu bikin blog?  
Bagi saya, blog itu adalah ruang pribadi saya untuk berekspresi. Blogging is for express, not to impress. Di sana saya bebas menjadi diri saya sendiri. Menulis untuk diri saya sendiri. Menulis betul-betul untuk mengekspresikan apa yang saya alami. Sedih, senang, kecewa, belajar sesuatu, berpendapat, menuangkan ide. Motivasi saya membuat blog pada dasarnya untuk aktualisasi diri. Jika nantinya, apa yang saya tulis di blog dapat menjadi inspirasi buat orang lain, lebih bagus. Tapi pada dasarnya, blog lebih untuk komunikasi intrapersonal diri saya sendiri.


The good you do today, will often be forgotten. Do good anyway.

Comments

Post a Comment

thanks!