Antara Plagiat, Adaptasi, Terinspirasi, Referensi, Idealisme, Konsekuensi, dan Apresiasi

Bingung? Nah lo... Saya juga bingung....
Baru-baru ini saya jadi merasa sangat bodoh.
Entah bodoh beneran, atau dibodohi.
Atau karena berada di sekeliling orang-orang bodoh, maka saya jadi merasa bodoh kalau ga ikutan bodoh?

Sekalipun belum terjun secara langsung dalam dunia seni profesional, semenjak beberapa tahun yang lalu saya memang cukup dekat dengan dunia seni, yang penuh dengan hasil karya cipta para seniman. Sebut saja, musik, foto, film, grafis. Sekalipun semua masih dalam ranah amatir, karya perdana, tapi kedekatan saya dengan dunia tersebut tidak dapat dipungkiri. Selain sebagai penikmat seni, terkadang saya juga menjadi salah satu pelakunya. Nah, kali ini saya lebih ingin memfokuskan pembahasan pada posisi sebagai seorang pelaku seni, entah desainer, seniman, musisi, fotografer, or whatever artist.

Saya bukan orang yang jago banget. Kalo bisa sampe sekarang, tentunya karena saya sudah melewati banyak sekali proses pembelajaran yang akan terus berlanjut. Pembelajaran itu, salah satunya adalah lewat karya orang lain, yang secara tidak langsung pasti memberikan influence pada diri saya. Ok, karena dalam hal seni, saya lebih fokus ke arah musisi, katakanlah, musik karya saya akan memiliki kecenderungan mirip dengan musisi A, karena memang dia lah influence saya dalam bermusik. Saya rasa ini juga terjadi dalam bidang seni yang lain. Itu tadi tentang referensi. (Ato istilah yang saya gunakan salah? Bila iya, tolong bantu saya membenarkan)

Saya memang bukan seorang musisi yang super produktif. Tapi salah satu keyakinan yang saya pegang dalam berkarya adalah, menghindari yang namanya PLAGIAT. Mengesahkan karya orang di atas nama kita sendiri. Mengambil keuntungan (entah materi atau apapun) di atas buah karya orang lain.

Persoalannya, sekarang saya jadi tidak paham perbedaan antara kesemua hal yang sudah saya sebut dalam topik saya tadi. Karena hari-hari ini saya banyak menjumpai kasus-kasus serupa. Karya yang terlihat dengan jelas menjiplak karya lain berhasil sembunyi di balik topeng ADAPTASI. Yes, please, adaptasi, tanpa menyebutkan sumbernya. Padahal yang saya tau, kalo liat pilem-pilem luar negeri yang diambil dari novel, selalu ada tulisan BASED/ ADAPTED FROM ........Atau sekarang atas topeng terinspirasi. Seberapa sih batas antara PLAGIAT, INSPIRASI, ADAPTASI, REFERENSI?

Saya percaya kalo manusia itu makhluk Tuhan yang super hebat. Kalau ada niat, apa pun bisa jadi. Kalo ada niat males, nyontek, curang, udah deh, alasan apa pun bisa digunakan. Ok, mungkin ada dasar hukum untuk mengukur segalanya. Tapi percaya deh, hal utama yang dipentingkan itu bukan sekedar BENAR//SALAH, atau MENANG/KALAH dalam sebuah perdebatan. Tapi gimana sih respon kita, nurani kita. Cuma kita sendiri yang bisa menilai motivasi kita saat berkarya itu. Tapi masalahnya, masih ada gak orang yang mau menilai kembali motivasi pribadinya tanpa memikirkan konsekuensi yang harus dia terima kalau memang dia beneran bersalah?

Terpaut dengan posting saya sebelumnya mengenai idealisme.
Katakanlah saya masih hijau, dalam usia belum 1/4 abad, masih bisa bilang idealisme. Katakanlah saya masih belum melihat dunia luar.
Katakanlah saya belum melihat aslinya dunia.
Tapi bolehkah saya membawa hati nurani hingga saya berusia berapapun?



Saya bukan ahli hukum atau analis seni, saya hanyalah seorang pengamat, yang mencoba menyampaikan apa yang saya hayati sebagai seorang manusia.

Seberapa sih batas antara PLAGIAT, INSPIRASI, ADAPTASI, REFERENSI?
Tidak Ada. Batasnya hanya antara hati dan pikiran kita. Antara logika dan nurani kita.

Comments

  1. "...dalam usia belum 1/4 abad..."

    waktu baca itu, aku langsung inget kalo bentar lagi umurku hampir 1/4 abad hahahahaaa...

    ehm...such a critical post but i agree with u about "the copy cat" things...

    ps: untung Crossroad To Heaven pake instrumen musik buatan sendiri nggak ngambil2 instrumen orang lain(kecuali opening scene_nanti aku tulis sumbernya di credit title) Hahahahaa...


    Keep writing!

    ReplyDelete
  2. wah wah... pas kamu bilang 'umurku hampir 1/4 abad', aku langsung lupa... sebrapa tuanya dirimu.. hahahaha

    iya... akhir2 ini saya lagi marah dengan copycat things gitu.

    hohohoho.... sip sip... hidup orisinalitas! hidup apresiasi karya orang dalam credit title!

    ReplyDelete
  3. Hm... Semoga saya (atau lebih tepatnya editornya) tidak lupa mencantumkan nama musik yang kami buat untuk editing dan PPTV. Sebab, saya sendiri sudah angan2 pengen credit title musik tidak pasaran sehingga produksi kami tidak terlalu lame amat. Tapi kalo tidak mencantumkan lebih lame lg rasae...

    ReplyDelete
  4. as long as u work with jerks, all you've done will just a piece of s*** for them..
    cause Jerks never know what's the value of idea!

    ReplyDelete

Post a Comment

thanks!